Sejak Ada LGBT Aku Tidak Laku (Episode 2).

Di kota dan sekolah baruku, aku merasa kesepian. Hanya disaat tertentu aku bisa habiskan waktu bersama ayah dan mengobati kesepianku. Seperti saat ini kami berada di sebuah Cafe. Tapi ada sesuatu yang mengganjal, ketika melihat ayah berwajah murung, "Ayah punya masalah?" tanyaku.
Ayah justru membalikan pertanyaanku, "Seharusnya ayah yang bertanya, apa kamu punya masalah di sekolah barumu. Sudah 3 bulan lamanya kita di kota ini, tapi ayah tidak pernah melihatmu membawa teman baru satupun ke rumah!"
Jelaslah tidak ada yang berteman denganku, semenjak kematian ibu dan kakak, aku menjadi anti sosial, bahkan aku tidak tahu lagi bagaimana caranya berteman. Dorongan untuk membuat ayah tidak bersedih memaksaku untuk berkata, "Aku akan tunjukan teman baruku ke ayah, nanti."

Di sekolah dengan sifat pemaluku, aku bertekad akan berteman dengan yang pertama kali mengajakku bicara hari ini.

"Hai, Mia. Kamu bengong aja. Soal latihannya sudah selesai belum. Mau ku kumpul nih!" Aku tersadar dalam lamunanku.
"Biar aku bantu bawakan bukunya, ketua kelas!" responku secara tiba-tiba.
"Wow, kamu membuatku terkejut. Panggil saja aku Lesi" jawabnya ramah.

Hari itu aku selalu mengajak Lesi ngobrol, menolongnya bahkan hadir di saat dia tidak membutuhkanku. Terus berlanjut di hari berikutnya, yang awalnya aku selalu mendekatinya kini berbalik dia yang selalu mendekatiku. Mungkin ini saatnya aku perkenalkan Lesi ke ayahku.

Terlihat wajah bahagia ayah yang membuatku senang, saat Lesi datang ke rumah dan memperkenalkan diri, "Permisi om. Nama saya Lesi, teman sekelas Mia!"

Kedatangan Lesi pada saat itu bukan pertama dan terakhir tapi pertama dan seterusnya. Kami dekat bahkan sangat dekatnya hubungan kami, dia menginap di rumahku. Meski aku tidak mengizinkan, ayahku sebaliknya sangat memperbolehkan, "Kamu tidak boleh menyinggung perasaan sahabatmu!" nasehat ayah padaku.

Malam itu Lesi berlaku aneh padaku hingga mengusik tidurku. Takut emosiku memuncak, aku memilih ke luar kamar untuk menenangkan diri sebentar. Hal itu disadari ayah yang belum tidur karena lagi mengejakan tugas kantornya.

Di malam yang sunyi dan dingin aku ditemani ayah sekedar untuk minum air hangat di dapur. Tentunya aku buatkan kopi hangat minuman kesukaan ayah.

"Ayah ingin dengar ceritamu!" Mendengar ayah bicara seperti itu, aku bagaikan bermimpi. Aku senang punya tempat untuk menampung ceritaku dan ada yang menanggapinya.

Ku ceritakan semuanya hingga sampai ceritaku dengan Lesi. Membuat ayah memarahiku, "Tidak ada orang tua yang ingin anaknya seperti itu!" Malam itu juga Lesi diantarkan ayah ke rumahnya.

Keesokan harinya di sekolah. Tempat satu-satunya Lesi bisa mendekatiku tentu kesempatan ini tidak dilewatkannya, "Mia, apa ayahmu sangat marah malam itu!"
Sesuatu yang paling membuatku kesal adalah membuat ayahku marah, "Iya dia memarahiku habis-habisan meski tidak memukulku!" jawabku sedih.

Tiba-tiba guru datang mendekati kami, "Lesi, ibu mau bicara denganmu!" Setelah keluar dari kantor guru, Lesi selalu menjauhiku. Juga ayah, tidak menuntutku untuk membawa teman lagi ke rumah.

Aku tak tahu kenapa tapi itulah akhir ceritaku dengan Lesi.

Bersambung...

Episode 1

Episode 3
Episode 4
Episode 5