Cerbung: Terikat Tragedi (Episode 1)
.
Di sebuah taman. Aku, Enja cuma siswa SMA, tapi bisa berduaan dengan wanita muda berpakaian biasa, yang berprofesi sebagai polwan.
Polwan itu bertanya padahal dia sudah tahu jawabannya. Aku sebenarnya malas menjawabnya, tapi aku tetap jawab, "Roh bergentayangan itu berdiri di atas koper, dia ingin memberitahu sesuatu. Kamu sudah utus anggotamu kan untuk memeriksanya hingga kejadian sebenarnya terungkap, buat apa lagi bertanya!"
Si Polwan ini tersenyum dan duduk semakin dekat denganku di bangku taman, "Benar, jika bukan kamu. Kami tidak menyadari keanehan pada koper penumpang, yang isi harta berharganya menghilang. Awalnya kami kira kecelakaan, ternyata sabotase dan perampokan, hingga pembunuhan keji dengan kepala diinjak hingga pecah terhadap korban yang masih hidup. Kasus seperti ini cuma kamu yang bisa memecahkannya. Jadi tetaplah bekerja denganku."
Aku tidak menjawab dan memilih pergi.
Si Polwan malah mengancamku lagi, "Bila tidak mau, aku akan memejarakan kamu, nasibmu mungkin akan sama dengan dokter karena telah menggunakan senjata api tanpa izin."
Hal itu membuatku terpaksa kembali, "Iya aku mau. Siapa namamu?"
Si Polwan itu terlihat senang, "Namaku Nanda!"
Sial, kalau begini ceritanya, aku bakalan selalu TERIKAT TRAGEDI.
.
Di rumah aku datang dengan murung. Aku membuka pintu yang terkunci. Semenjak Enli mengalami gangguan jiwa. Pintu harus terkunci. Saat masuk aku kaget melihat Enli rebahan dengan posisi tungkurap. Aku langsung teriak, "Bu... Kenapa Enli, dipakaikan celana ketat...!"
Ibu tidak menjawab. Sepertinya dia di lantai dua.
.
Aku berjongkok mendekati Enli, menyentuh bahunya. Dia tidak menanggapi apa yang ku lakukan padanya, cuma tertawa sambil menunjuk bayangannya sendiri di lantai.
"Jika, aku memelukmu dari belakang sambil menyentuh bagian tubuhmu, apa kamu marah!"
Enli tidak menjauh dan juga tidak menjawab. Pandanganku mengarah ke bagian tubuh Enli di bawah pinggang. Aku mukul kepalaku sendiri dengan kesal.
"Sial, sial. Itu adikmu sendiri, Enja." Ucapku marah pada diri sendiri.
Tiba-tiba HP ku berbunyi, SMS dari Nanda, "Ada kasus baru..." Disertai dengan alamat.
.
Aku memilih pergi ke tempat yang ditunjuk Nanda.
Di sana ada rumah berlantai dua di tengah hutan. Dari bawah, aku melihat Nanda di lantai dua, "Enja, ayo naik!"
.
Aku naik ke lantai dua dan memasuki sebuah kamar. Terlihat ada wanita tergantung di sana menggunakan tali yang terbentang melalui lampu hias dan ujungnya terikat ke sebuah lemari. Di bawah mayat tersebut terdapat sebuah bangku yang tergeletak.
Seorang pria dengan tanda pengenal penyidik Kepolisian bicara, ''Nanda, aku sudah bilang ini bunuh diri. Kenapa kamu ragu!"
Nanda menjawab, "Aku cuma memastikan benar atau tidak. Enja silahkan lihat-lihat."
.
Di dalam kamar aku tidak lihat ada sesuatu yang aneh. Aku lalu melanjutkan melihat keluar melalui jendela. Pandanganku tertuju pada sosok wanita berpakaian putih berdiri di semak-semak. Saat dia melihat ke arahku. Aku segera mengalihkan pandanganku.
Tubuhku diam terpaku, berusaha menyembunyikan ketakutanku. Ketika sosok itu tiba-tiba muncul di hadapanku.
.
Nanda menyadari sikap anehku, "Ada apa, Enja?"
Aku diam sejenak. Terus berjalan menembus sosok itu. Aku berbalik sedikit memastikan sosok itu tidak ada lagi.
Setelah menghilang, dengan keadaan gugup aku jawab pertanyaan Nanda, "Coba kamu lihat, apa ada sesuatu di semak-semak dekat pohon di halaman rumah ini."
.
Nanda langsung ke sana. Aku tidak bisa pergi, karena arwah gentayangan itu akan menampakan dirinya terus di hadapanku. Jika tahu aku bisa melihat keberadaannya.
.
Nanda menghampiriku yang keluar dari pintu rumah dan langsung bilang, "Ada darah di sana? Tapi aku tidak menemukan bagian tubuh wanita itu yang terluka."
Aku sebenarnya tidak nyaman mengatakan ini, "Coba kamu periksa bagian...
.
(Bersambung)

Semua Episode.