Cerbung: Sakit Tersakiti (Episode 3)
.
Dari balik kegelapan dan di belakang titik cahaya misterius ada sosok berambut panjang berdiri.
"Kakak takut gelap?" Ucapnya.
Ternyata sosok itu Ria, tidak lagi menggunakan seragam, dia sekarang mengenakan pakaian serba hitam berbaur dengan gelapnya tempat ini. Dia terlihat membawa lilin dan meletakannya di depanku yang terbaring di lantai dalam keadaan terikat.
.
Aku berusaha bicara tapi mulutku dilakban. Ria melepaskannya dengan pelan. Aku segera bicara, "Ria, kakak mohon. Kasihani kakak."
Ria mendorongku hingga membuatku terlentang, "Semenjak ibu meninggal, ayah tidak punya seseorang untuk memuaskan nafsunya. Maaf ya kak!" Ucapnya sambil mencoba melepaskan celanaku.
Aku berteriak, "Hentikan Ria!" Walaupun dia perempuan sama denganku. Tapi aku tidak terima.
Teriakanku berhasil hentikan Ria, "Aku cuma memeriksa kak. Tidak perlu cemas. Saat ini ayah lagi kerja di Rumah Sakit Jiwa. Nanti tengah malam dia akan kembali."
Tubuhku lemas mendengarnya. Hidupku bakalan hancur saat tengah malam nanti tiba.
.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan Ria. Aku mulai pasrah. Ria terlihat bergegas keluar, "Kakak lagi Datang Bulan ya! Aku akan pergi mengambilkan keperluan kakak."
Melihat aku hanya diam, Ria yang sudah sampai pintu kembali lagi, "Ayah tidak akan melakukannya ke kakak, kalau kakak lagi Datang Bulan. Jadi kakak bisa menyiapkan mental dulu. Oh ya kak. Aku juga akan mengambilkan makanan buat kakak. Kakak mau makan apa?"
Penjelasan Ria seakan-akan aku diberikan waktu lebih lama untuk memikirkan cara untuk kabur. Aku yang pasrah mulai semangat, "Apapun yang adik masak. Kakak akan makan."
.
Ria kemudian pergi cukup lama dan kembali membawa pakaian dan keperluan lainnya. Yang tidak ku mengerti dia juga membawa sapu tangan dan botol aneh.
"Apa itu Dik Ria?" Tanyaku saat melihat Ria meneteskan air botol itu ke sapu tangan.
Dia tersenyum, "Ini obat bius kak!"
Aku tercengang mendengar ucapannya, "Ria, kakak bisa melakukannya sendiri, tidak perlu dibius, cukup lepaskan..."
Mmbbm, percuma. Ria tetap melakukannya, dia menutupi mulut dan hidungku dengan sapu tangan itu. Kepalaku pusing dan pandanganku mulai kabur.
.
~
.
Saat aku sadar. Tangan dan kakiku tidak terikat tapi dirantai secara terpisah dan rantai itu terhubung di masing-masing pondasi di sudut rumah. Di depanku tersedia makanan, nasi, telur mata sapi, pisang dan air putih. Aku sudah menduga Ria tidak mungkin membuat makanan yang rumit. Pakaianku juga sudah diganti. Meski terlihat bekas tapi harum dan bersih. Terlihat ada motif pisang di pakaian ini.Aku segera makan, dengan harapan bisa terus hidup dan melepaskan diri dari sini.
.
Saat tengah malam tiba. Jaha datang mendekatiku yang sedang duduk dan selesai makan. Dia mencekram leherku hingga aku berdiri. Aku sulit bicara. Dia mencakar dahiku dengar kuat, "Akh.." Aku menjerit tapi suaraku tertahan. Lalu dia membantingku ke lantai. Darahku berhamburan.
.
"Ampun, om!" Cuma itu yang bisa ku ucapkan.
Dia membalasnya dengan tendangan keras di pundakku.
Buk buk buk.
"Jika aku tidak bisa memuaskan nafsu birahiku sekarang, aku akan memuaskan nafsuku menyiksamu." Teriaknya.
.
Dia terus memukuliku hinggaku tidak sadarkan diri.
.
~
.
Aku terbangun saat pagi tiba, ketika cahaya mentari datang menyapa. Terlihat di depanku sebuah bunga mawar merah dan lilin yang sudah habis.
"Bunga itu dari ayahku." Ucap Ria yang duduk melihatku terbaring.
Keadaanku kembali seperti awal. Dilakban di mulut dan kaki, sedangkan tangan terikat tali.
Aku seperti tidak punya harapan.
Ria terus mengajakku bicara, "Aku libur sekolah. Ayah seperti biasa kerja. Aku lupa bilang, sebagai ganti ayah tidak bisa melakukan hubungan suami istri ke kakak. Dia akan selalu menyiksa kakak..."
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
Ria keluar menghampirinya. Walau aku di dalam. Aku bisa mendengar suara dari luar. Sepertinya ada tamu laki-laki di luar.
"Permisi Dik, Bapak ingin bertemu dengan seseorang bernama Enli."
Aku kaget, saat tamu itu menyebut namaku. Dengan cara ngesot aku mendekati dinding untuk menguping.
Ria membalasnya, "Kok bapak, lebih tepat di sebut kakak. Maaf kak. Aku tidak kenal dengan namanya Enli."
Sial, aku belum memperkenalkan diri kepada Ria. Bodohnya aku.
Ria terdengar kembali bicara.
"Kakak temannya Ayah? Nama kakak siapa? Nanti aku sampaikan ke ayah."
"Sanja!"
Aku terperangah mendengarnya. Segeraku mencari celah di dinding. Ingin melihat wajahnya. Belum sempat aku melakukannya.
Tiba-tiba, atap di atas ku berbunyi dan bergerak.
.
(Bersambung)

Semua Episode