(Episode 1)
.
Mengenal Sanja secara tidak sengaja. Awalnya cuma menjebaknya malah aku yang terjebak cinta. Dia sudah mengatakan sebenarnya tapi aku tetap ingin bersamanya. Entah ini yang aku inginkan sebenarnya atau hanya cinta buta yang menyesatkan. Aku ingin punya anak tapi jika dengan Sanja itu hanya angan. Dua bulan ke depan mungkin aku akan menikah, bukannya siap saat itu datang, aku mulai berpikir ulang.
.
Aku menunggu di sebuah Halte bus untuk pulang dari les dalam rangka menghadapi ujian. Hingga matahari hampir terbenam bus belum datang juga.
"Hujan kok gak berhenti. Masa aku harus pulang jalan kaki sih. Gak banget." Keluhku.
Doaaar, petir menggelegar. Aku langsung berlari menerobos hujan, tas Sandang ku gunakan untuk melindungi kepala biar gak terserang demam.
"Aduh..." Aku terjatuh, entah nabrak pohon atau tiang listrik aku gak tahu karena jalan nunduk.
"Maaf, apa kamu terluka?" Ucap suara laki-laki.
Ini pasti Sanja. Dia selalu ada saat aku butuh. Seperti cerita karangan saja.
.
"Ayah..." Ucapku kaget, tidak sesuai harapan.
Aku lalu diantar ayah pulang dengan mobilnya.
.
Di dalam mobil.
"Tumben ayah jemput aku." Tanyaku tidak bersemangat.
"Tadi Sanja menelpon ayah. Ada kecelakaan di ujung jalan ini. Bus dan mobil tidak bisa masuk." Balas Ayah.
Pasti Sanja yang minta tolong ayah jemput aku, pikirku.
"Tubuhmu menggigil, tapi kamu malah tersenyum." Ucap Ayah.
Lagi-lagi aku tidak sadar tersenyum.
.
"Hubunganmu bagaimana dengan Sanja? Ayah lihat kamu jarang bertemu tapi ikatan kalian seperti semakin erat saja." Ucap ayah sambil memberikan baju kering ke aku. Aku menyambutnya dan segera melepaskan bajuku dan menggantinya.
"Maksud ayah? Aku malah ngerasa kami seperti semakin menjauh." Balasku.
"Itu baju dari Sanja, dia seakan tahu kamu membutuhkannya dan tidak ingin kamu sakit." Ucap ayah.
.
Kali ini aku sadar sedang meneteskan air mata.
"Ajak dia les kamu. Dia lulusan perguruan tinggikan! Tidak usah les di luar rumah lagi." Saran ayah. Aku tahu maksudnya, agar aku bisa tetap dekat dengan Sanja.
.
***
.
Keesokan harinya aku mencoba menelpon Sanja sebelum berangkat sekolah. Tapi malah dia yang telpon aku duluan.
Aku diam mendengarkannya, aku tidak seperti dulu lagi yang selalu egois.
Aku sekarang selalu gugup jika dengan Sanja.
"Lina!" Ucap Sanja memastikan.
"Iya, ini aku." Balasku.
"Biasanya kamu yang duluan nyapa." Ucap Sanja.
Aku cuma diam.
"Aku sekarang punya banyak waktu luang."
Aku ingin berkata tapi lidah ini terasa berat. Jantungku bedetak kencang.
"Jadi, aku ingin liburan ke luar kota."
"Apa?!" Ucapan Sanja bikin aku kaget.
"Becanda, haha." Tawa Sanja bikin aku cemberut.
"Sebenarnya aku ingin mengajarimu untuk menghadapi ujian kelulusan, itupun jika kamu tidak keberatan."
.
Sesampainya di sekolah, aku minta izin berhenti les yang diadakan di sana.
.
Di rumah setelah magrib. Sanja datang sesuai yang kupinta. Kami belajar di teras.
"Soal ini pendek. Tapi cara menjawabnya panjang. Jadi kamu harus perhatikan ya!" Ucap Sanja.
"Akan kuperhatikan." Balasku.
Sanja lalu menuliskan caranya.
.
"Ini soal matematika, kok kamu jawab pakai kata-kata." Komentarku.
"Nah, gitu dong protes." Ucap Sanja malah suka diprotes. Kalau di sekolah mungkin guru sudah memarahiku.
.
"Ini bakalan panjang kalau jawabnya pakai cara bercerita." Balas Sanja.
"Kamu becanda mulu. Aku udah panik lihat jawaban gitu." Ucapku serius.
Sanja terdiam.
Lalu bicara datar, "Jika aku bilang, tidak bisa melawan hantu lagi. Kamu percaya itu becanda."
Aku langsung merinding.
"Cara sebenarnya tidak jauh berbeda. Tetap panjang. Tapi aku punya cara yang pendek. Sudah kucoba dengan banyak soal dan jawabannya tepat. Kamu mau pakai caraku, meski bakalan berbeda dengan diajarkan di sekolah biasanya." Ucap Sanja lagi dengan nada normal.
"Banyak orang yang ambil jalan berbeda-beda, tapi tetap tujuan sama. Selama tidak merugikan, itu tidak masalah." Balasku kembali senang.
.
Tiba-tiba lampu mati. Suasana gelap seketika. Tidak beberapa lama lampu kembali nyala.
"Ahhh..." Aku kaget ada sosok wanita berambut panjang yang muncul di halaman rumah.
.
(Bersambung)
.
Semua Episode