Psikopat Vs Psikopat (Episode 4).

Selesai mengubur pria yang mencoba memperkosaku, kak Pad segera masuk ke rumah. Sebelum itu dia mengatakan sesuatu padaku, "Niat untuk melakukan kejahatan sudah cukup sebagai alasan dia pantas dihukum!"
Aku tetap tidak setuju dengan yang kak Pad katakan, "Yang pantas dihukum itu orang yang melakukan kejahatan!" Teriakku pada kak Pad.
Dia memegang kedua bahuku, "Jadi kakak harus biarkan dia merebut keperawanmu dulu lalu membunuhnya!"
Aku terdiam. Lalu bicara,"Kakak yang menjebaknya. Jika kakak tidak merusak pakaianku. Dia pasti tidak akan tergoda dan berniat memperkosaku!" sambungku.

Malam harinya setelah mandi aku beristirahat dengan rebahan di kasur. Aku lupa mengunci pintu kamar alhasil kak Pad main masuk saja. Dia lalu duduk tepat di hadapanku. Tidak beranjak dari kasur aku bicara, "Apa kakak tidak memikirkan nasib keluarganya?"
Sambil membuka buku yang di bawa dia menjawab, "Kejadian sore tadi kakak menirunya dari cerita sadis karanganmu?"
Tentu itu membuatku terkejut. Dia melanjutkan kembali, "Salahmu sendiri membuat ini!"
Dia meninggalkan bukunya, "Jangan hanya menulis di facebook. Kumpulkan juga ke dalam buku seperti yang kakak lakukan pada ceritamu. Biar bisa dibaca setiap saat dan menginspirasi orang lain. Oh iya, kakak kembalikan milikmu!"

Setelah kak Pad keluar dari kamar aku segera mengunci pintu lalu menghancurkan bukunya.

Keesokan harinya. Aku mengunjungi tempat Bobi disekap. Aku mengambil rekaman video penyiksaanku terhadap Bobi. Melihatku masuk dia bertanya, "Sampai kapan aku dikurung di sini!"
"Sampai aku berhasil membawa korban yang kamu perkosa ke sini untuk balas dendam!" Jawabku ngasal tapi sukses buatnya terdiam.

Lalu aku pergi menjauhi rumah tersebut sambil mengupload ke internet video itu dengan ponsel dan menyebarkannya ke media sosial, "Akan ku tunjukan kepada kak Pad, bagaimana cara membasmi penjahat yang tepat yaitu menakut-takuti orang lain di luar sana dengan begitu mereka tidak akan berani melakukan kejahatan yang sama!" Ucapku di dalam hati kemudian ku buang ponselnya.

Tiba-tiba ponselku yang lain berbunyi dari kak Pad, "Kakak mungkin tidak pulang malam ini. Ada gadis gila yang mengupload video penyiksaannya terhadap Bobi ke internet. Kami akan melacaknya!"
Cuma bagian belakangku yang terlihat dalam video. Sehingga kak Pad tidak sadar gadis gila itu aku.
"Apa kakak mau melacakku!" Jawabku yang sepertinya membuat kak Pad terkejut.

"Kenapa datang sendiri teman polisi kakak mana!" Kata sambutan yang ku ucapkan kepada kak Pad yang baru datang di rumah tempatku menyiksa para penjahat.
"Apa yang kau lakukan. Berhenti menyayat tubuhnya! Kau buat dia tersiksa!" Teriak Kak Pad melihat darah keluar dari tubuh seorang pria meski tidak deras.

Aku berdiri diantara Bobi yang sudah tewas dan pria yang masih hidup, "Mahasiswi yang tidak mampu dia buat tersiksa dengan memakainya biar tetap bisa kuliah. Jadi gak apa aku juga memakai tubuh dosen Rio sebagai kertas gambarku!" Jawabku polos.
"Tidak ada bukti, kau tidak bisa main hakim sendiri!" Balas kak Pad.
"Dia datang ke sini setelah mengetahui aku bisa dipakai, apa itu bukan bukti!" Aku keluar dari ruangan itu.

Beberapa saat kemudian aku masuk lagi dengan membawa anak laki-laki yang masih SMP, dan berkata "Mengetahui pak Rio punya niat jahat padaku pasti kakak ingin membunuhnya!" Sambungku.

Rio yang ikatannya telah dilepaskan kak Pad berteriak, "Lepaskan anakku!"
Aku lemparkan kapak ke arah Rio lalu ku letakan pisau runcingku di leher anaknya, "Bunuh polisi psikopat itu atau anakmu mati!"
Terlihat kak Pad mau mengambil pistolnya, aku segera bicara, "Jika kakak membunuh pak Rio di depan anaknya. Maka kakak harus bunuh anaknya juga, dia mungkin akan dendam dan menjadi penjahat!"
Sesuai dugaanku, kak Pad tidak tega membunuh anak-anak.

"Kalau begitu, aku cukup melumpuhkan Rio saja!"
Balas kak Pad sambil mengeluarkan pisau.
"Ayunkan kapakmu ke arahnya!" Perintahku kepada Rio.
Kak Pad menahan kapak Rio dengan pisaunya.

"Menarik juga, kapak lawan pisau. Sudah bisa ditebak siapa yang menang!" Aku lemparkan setrikaan yang ada di sana tepat ke kepala kak Pad sehingga membuatnya terjatuh.
"Angkat lebih tinggi kapakmu pak Rio, aku ingin melihat darahnya mengalir!" perintahku.

Bersambung...

Episode 1
Episode 2
Episode 3

Episode 5